PRP MAKASSAR

12 Juni 2008

SEMANGAT PERLAWANAN VS PERASAAN RENDAH DIRI

Oleh : Bustamin

(Anggota Sentra Gerakan Progressif Makassar dan Anggota Perhimpunan Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar – PRP Makassar)


Rabu 4 Juni 2008, waktu itu sore menjelang petang, karena merasa jenuh di rumah sendirian, saya kemudian mengajak seorang teman perempuanku untuk melihat “sunset” di pantai “Tanjung Bayang” Makassar. Sambil menunggu momen “sunset”, kami nongkrong di sebuah balai ”mace” (cat :balai mace adalah warung-warung kecil di pantai tanjung bayang makassar yang menjajakan jagung bakar) sambil menikmati jagung bakar, karena memang kebetulan sore itu saya membawa uang lebih.

Dan saya pun mulai berbincang-bincang dengan ibu setengah baya yang punya warung itu.

Awalnya tidak ada yang menarik dari perbincangan kami karena hanya kebanyakan basa-basi hingga akhirnya masuk ke pembicaraan tentang politik. saya terkejut ketika ibu itu mengatakan dengan PD-nya bahwa yang membuat menang pasangan SAYANG (Syahrul YL – Agus AN) sebagai gubernur dan wakil gubernur propinsi sulawesi-selatan adalah karena dukungan massa dari kaum miskin kota dan pedagang kaki lima. Mungkin saya tidak terlalu terkejut, kalau dia bisa mengeluarkan pernyataan seperti itu karena dia masuk dalam sebuah organisasi atau pernah belajar di sebuah organisasi atau wadah lain ataukah setidaknya dia pernah membaca sebuah buku atau artikael. Namun ketika saya bertanya apakah dia pernah berorganisasi atau pernah belajar tentang wacana politik atau wacana pergerakan, dia justru menjawab tidak pernah. Dia hanya menjawab bahwa semua ini karena pengamatan spekulasinya.

Namun ada yang kontras dari pembicaraan kami, yaitu waktu saya mengajukan pertanyaan kepada dia bahwa apakah dia pernah berpikir untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama dengan kaum miskin dan pedagang kak lima lainnya. Dia kemudian menjawab dengan jawaban yang membuatku bingung yaitu bahwa semua ini adalah takdir sejak lahir yang ia harus terima dengan ikhlas. Dia menganggap bahwa kaum miskin adalah kaum miskin tidak bisa menjadi kaya, kecuali jika ada mukjizat – lanjut candanya.

Dua Kesadaran Yang Kontradiktif

Dari prolog di atas nampak jelas terlihat adanya dua hal yang saling bertentangan. Di satu sisi terdapat kesadaran akan adanya potensi kekuatan besar dari massa kaum miskin kota dan pedagang kaki lima, sementara di sisi lain ada semacam kesadaran yang tertanam di kepala mereka bahwa kondisi objektif yang mereka alami adalah hukum alam yang mereka harus terima dan jalani, dimana hukum alam ini tidak bisa lagi dirubah atau diganggu-gugat.

Memang agak rumit untuk memastikan penyebab dari adanya dua kesadaran yang kontradiktif tersebut, karena membutuhkan penelitian lebih lanjut. Tapi menurut saya, untuk kesadaran pertama dipengaruhi oleh kondisi yang memperlihatkan semakin meningkatnya populasi kaum miskin. Dan untuk kesadaran yang kedua, hal ini tidak terlepas dari pengaruh doktrinasi feodal dan mistik-religius yang tertanam sejak mereka lahir.

Hal ini pulalah yang menjadi salah satu faktor sulitnya mengorganisir kaum-kaum tertindas khususnya mereka yang ada di pedesaan dan yang minim mendapatkan akses informasi.

Sebenarnya jika melihat dialektika yang ada, akan memperlihatkan arah keasadaran yang menuju pada kesadaran pertama yaitu kesadaran dimana populasi kaum miskin selalu bertambah dari waktu ke waktu sehingga kesadaran akan kekuatan yang besar pun suatu saat akan mendominasi. Dan memang realita yang ada jumlah kaum miskin selalu bertambah dari tahun ke tahun.

Manajemen kesadaran adalah sesuatu yang urgen untuk di injeksikan kepada kaum miskin. Merasa mempunyai kekuatan adalah batu loncatan yang berkualitas untuk menuju pada kesadaran massa yang sejatinya. Integritas dengan kaum tertindas lainnya seperti kaum buruh dan tani akan membawa kepercayaan diri untuk memperjuangkan kesejahteraan.

Tapi pandangan-pandangan patalis yang berbau mistik religius tidak boleh diremehkan begitu saja. Karena ini akan membawa mereka pada jebakan perasaan rendah diri. Dimana mereka melihat dirinya sebagai kaum lemah yang tidak mempunyai takdir untuk sejahterah.

Sekali lagi, satu hal yang menjadi pelajaran bahwa ditengah kebodohan dan keluguan-primordial, kaum miskin (tertindas) mempunyai prasyarat material berupa kesadaran akan kekuatan besar. Meskipun kekuatan itu belum mampu mendorong mereka untuk melakukan perjuangan yang sejatinya karena masih diliputi perasaan rendah diri sebagaimana yang saya sebutkan tadi, tapi setidaknya ini adalah modal bagi kaum-kaum intelektual progresif untuk mengorganisir kaum miskin kota dan kaum tertindas lainnya.

Ya.. mungkin saya terlalu cepat mengambil suatu kesimpulan yang hanya berdasarkan satu pendapat atau satu pandangan. Tapi satu hal yang harus diingat bahwa terdapat kecenderungan kesamaan persepsi dari mereka yang berada dalam situasi dan kondisi yang sama, yaitu dalam hal ini dimana mereka berada pada situasi dan kondisi yang tertindas. Sehingga bukan tidak mungkin kaum tertindas lainnya seperti kaum buruh dan tani juga memiliki kesadaran dan pandangan yang sama dengan kaum miskin kota dan pedagang kaki lima tadi.


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]



<< Beranda