SEMANGAT PERLAWANAN VS PERASAAN RENDAH DIRI
Oleh : Bustamin
Rabu 4 Juni 2008, waktu itu sore menjelang petang, karena merasa jenuh di rumah sendirian, saya kemudian mengajak seorang teman perempuanku untuk melihat “sunset” di pantai “Tanjung Bayang”
Dan saya pun mulai berbincang-bincang dengan ibu setengah baya yang punya warung itu.
Awalnya tidak ada yang menarik dari perbincangan kami karena hanya kebanyakan basa-basi hingga akhirnya masuk ke pembicaraan tentang politik. saya terkejut ketika ibu itu mengatakan dengan PD-nya bahwa yang membuat menang pasangan SAYANG (Syahrul YL – Agus AN) sebagai gubernur dan wakil gubernur propinsi sulawesi-selatan adalah karena dukungan
Namun ada yang kontras dari pembicaraan kami, yaitu waktu saya mengajukan pertanyaan kepada dia bahwa apakah dia pernah berpikir untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama dengan kaum miskin dan pedagang kak
Dua Kesadaran Yang Kontradiktif
Dari prolog di atas nampak jelas terlihat adanya dua hal yang saling bertentangan. Di satu sisi terdapat kesadaran akan adanya potensi kekuatan besar dari
Memang agak rumit untuk memastikan penyebab dari adanya dua kesadaran yang kontradiktif tersebut, karena membutuhkan penelitian lebih lanjut. Tapi menurut saya, untuk kesadaran pertama dipengaruhi oleh kondisi yang memperlihatkan semakin meningkatnya populasi kaum miskin. Dan untuk kesadaran yang kedua, hal ini tidak terlepas dari pengaruh doktrinasi feodal dan mistik-religius yang tertanam sejak mereka lahir.
Hal ini pulalah yang menjadi salah satu faktor sulitnya mengorganisir kaum-kaum tertindas khususnya mereka yang ada di pedesaan dan yang minim mendapatkan akses informasi.
Sebenarnya jika melihat dialektika yang ada, akan memperlihatkan arah keasadaran yang menuju pada kesadaran pertama yaitu kesadaran dimana populasi kaum miskin selalu bertambah dari waktu ke waktu sehingga kesadaran akan kekuatan yang besar pun suatu saat akan mendominasi. Dan memang realita yang ada jumlah kaum miskin selalu bertambah dari tahun ke tahun.
Manajemen kesadaran adalah sesuatu yang urgen untuk di injeksikan kepada kaum miskin. Merasa mempunyai kekuatan adalah batu loncatan yang berkualitas untuk menuju pada kesadaran
Tapi pandangan-pandangan patalis yang berbau mistik religius tidak boleh diremehkan begitu saja. Karena ini akan membawa mereka pada jebakan perasaan rendah diri. Dimana mereka melihat dirinya sebagai kaum lemah yang tidak mempunyai takdir untuk sejahterah.
Sekali lagi, satu hal yang menjadi pelajaran bahwa ditengah kebodohan dan keluguan-primordial, kaum miskin (tertindas) mempunyai prasyarat material berupa kesadaran akan kekuatan besar. Meskipun kekuatan itu belum mampu mendorong mereka untuk melakukan perjuangan yang sejatinya karena masih diliputi perasaan rendah diri sebagaimana yang saya sebutkan tadi, tapi setidaknya ini adalah modal bagi kaum-kaum intelektual progresif untuk mengorganisir kaum miskin
Ya.. mungkin saya terlalu cepat mengambil suatu kesimpulan yang hanya berdasarkan satu pendapat atau satu pandangan. Tapi satu hal yang harus diingat bahwa terdapat kecenderungan kesamaan persepsi dari mereka yang berada dalam situasi dan kondisi yang sama, yaitu dalam hal ini dimana mereka berada pada situasi dan kondisi yang tertindas. Sehingga bukan tidak mungkin kaum tertindas lainnya seperti kaum buruh dan tani juga memiliki kesadaran dan pandangan yang sama dengan kaum miskin

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda